Melihatmu terdiam, menatap senja yang mulai tenggelam
Melihatmu termenung, menatap kosong angan yang tak terbendung
Melihatmu terhanyut, membawa kenangan yang telah menggelayut
Tanganmu terulur, namun acuh yang kau dapat
Matamu mengharap, namun palingan yang kau terima
Bibirmu bergetar, namun senyum sinis yang kembali
Gemericik sungai menenggelamkan gemuruhnya hati
Gelapnya awan menutup seketika mata hati
Kau meraung, memohon penuh harap
Tak ada sahutan, hanya kebisuan yang menyiksa
Pergilah!
Satu kata yang lolos dari mulut ini, menyulut api kemarahanmu
Namun tak ada guna, tubuhmu tak mampu melawan
Namun tak ada arti, karna jiwa hati telah mati
Sekarang, hanya tinggal menghitung detik
Dan kau, akan mengerti.

Komentar